Keunikan-Keunikan
di Wana Wisata Rawa Bayu, Songgon, Banyuwangi
Kabupaten Banyuwangi
memiliki berbagai destinasi wisata yang sangat menarik dan jumlahnya pun tidak
sedikit. Selain wisata alam, di Banyuwangi juga terdapat wisata religi dan
budaya salah satunya adalah Wana Wisata Rawa Bayu. Kawasan wisata initerletak
di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Wana wisata ini menawarkan
keindahan rawa dan alam pegunungan. Wana Wisata
Rawa Bayu juga merupakan salah satu obyek wisata religi yang sering dikunjungi
oleh masyarakat karena di lokasi ini terdapat petilasan dari Prabu Tawang Alun.
Prabu Tawang Alun merupakan salah satu raja Blambangan yang pada masanya sangat
dikagumi oleh rakyat Blambangan. Di sekitar kawasan Wana Wisata Rawa Bayu terdapat
area hutan sekunder yang masih terjaga keberadaannya. Hal ini ditunjukkan dengan
masih beranekaragamnya tumbuhan yang hidup di dalamnya. Di hutan sekundertersebut
banyak ditemukan beberapa jenis tumbuhan lokal yang tumbuh seperti urang-urangan
(Pilia sp.), kemado (Laportea sp.), pasang (Lithocarpus
sundaecus), dan dandang gulo (Dyxosylum sp.). Selain berbagai jenis
pohon, terdapat pula tumbuhan perdu dan herba baik endemik maupun eksotik yang tumbuh
subur disekitar kawasan Wana Wisata Rawa Bayu ini diantranya kopi robusta,
slimpet, mbote, kecrutan, joho, dan awar-awar. Kelestraian alam dan
keanekaragaman tanaman yang cukup tinggi ini secara langsung berdampak pula
pada keberadaan beberapa jenis hewan yang hidup didalamnya seperti burung,
serangga, dan mamalia.

Jenis-jenis
tumbuhan
ini dibiarkan tetap tumbuh dan sengaja tidak dihilangkan dengan maksud
tertentu seperti untuk menambah nilai keindahan, kesejukan, danjuga
untuk
menghormati adat dan budaya setempat. Hal ini dikarenakan tidak jarang
masyarakat
yang masih mempercayai hal-hal mistik terkait dengan alam seperti tidak
boleh
masuk kawasan hutan secara sembarangan, dilarang menebang jenis tumbuhan
tertentu, dan adanya jenis-jenis tumbuhan tertentu yang masihdigunakan
untuk keperluan
ritual keagamaan. Adanya kepercayaan masyarakat semacam ini secara tidak
langsung membantu dalam upaya konservasi lingkungan secara mandiri
oleh warga masyarakat.
Muhammad Khalid
faruq
Biologi,
Universitas Brawijaya