Minggu, 10 Januari 2016

Rawa Bayu Banyuwangi

Keunikan-Keunikan di Wana Wisata Rawa Bayu, Songgon, Banyuwangi

            Kabupaten Banyuwangi memiliki berbagai destinasi wisata yang sangat menarik dan jumlahnya pun tidak sedikit. Selain wisata alam, di Banyuwangi juga terdapat wisata religi dan budaya salah satunya adalah Wana Wisata Rawa Bayu. Kawasan wisata initerletak di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Wana wisata ini menawarkan keindahan rawa dan alam pegunungan. Wana Wisata Rawa Bayu juga merupakan salah satu obyek wisata religi yang sering dikunjungi oleh masyarakat karena di lokasi ini terdapat petilasan dari Prabu Tawang Alun. Prabu Tawang Alun merupakan salah satu raja Blambangan yang pada masanya sangat dikagumi oleh rakyat Blambangan. Di sekitar kawasan Wana Wisata Rawa Bayu terdapat area hutan sekunder yang masih terjaga keberadaannya. Hal ini ditunjukkan dengan masih beranekaragamnya tumbuhan yang hidup di dalamnya. Di hutan sekundertersebut banyak ditemukan beberapa jenis tumbuhan lokal yang tumbuh seperti urang-urangan (Pilia sp.), kemado (Laportea sp.), pasang (Lithocarpus sundaecus), dan dandang gulo (Dyxosylum sp.). Selain berbagai jenis pohon, terdapat pula tumbuhan perdu dan herba baik endemik maupun eksotik yang tumbuh subur disekitar kawasan Wana Wisata Rawa Bayu ini diantranya kopi robusta, slimpet, mbote, kecrutan, joho, dan awar-awar. Kelestraian alam dan keanekaragaman tanaman yang cukup tinggi ini secara langsung berdampak pula pada keberadaan beberapa jenis hewan yang hidup didalamnya seperti burung, serangga, dan mamalia.
           Jenis-jenis tumbuhan ini dibiarkan tetap tumbuh dan sengaja tidak dihilangkan dengan maksud tertentu seperti untuk menambah nilai keindahan, kesejukan, danjuga untuk menghormati adat dan budaya setempat. Hal ini dikarenakan tidak jarang masyarakat yang masih mempercayai hal-hal mistik terkait dengan alam seperti tidak boleh masuk kawasan hutan secara sembarangan, dilarang menebang jenis tumbuhan tertentu, dan adanya jenis-jenis tumbuhan tertentu yang masihdigunakan untuk keperluan ritual keagamaan. Adanya kepercayaan masyarakat semacam ini secara tidak langsung membantu dalam upaya konservasi lingkungan secara mandiri oleh warga masyarakat.

Muhammad Khalid faruq
Biologi, Universitas Brawijaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar